Iran Tak Akan Pernah Memaafkan Amerika Serikat

By | May 26, 2026

JAKARTA – Iran tak pernah melupakan dan memaafkan pembantaian yang di lakukan Amerika Serikat pada tanggal 28 Februari 2026 terhadap 175 siswi dan 24 orang pemain voli termasuk seorang gadis berusia 2 tahun.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei Teheran mengatakan, Iran “tidak akan melupakan maupun memaafkan” kekejian AS dengan rudalnya membantai warga sipil.

Amerika Serikat yang dinilai sok menjunjung tinggi HAM itu juga terbukti mengabaikan  nyawa manusia dan hukum internasional dengan melakukan serangan rudal yang disengaja dan biadab terhadap warga sipil Iran.

Pada tanggal 28 Februari 2026, tanpa ada provokasi apa-apa, Amerika Serikat bersama Iran tiba-tiba menyerang Iran dengan rudal termasuk terhadap sekolahan dan gedung olahraga.

Sedikitnya 175 orang termasuk 168 siswi sekolah dasar khusus perempuan Shajareh Tayyebeh di kota Minab, Iran selatan dan 24 orang pemain voli yang sedang berlatih di gedung olahraga di kota Lamerd, Provinsi Fars.

“Serangan yang menewaskan 24 orang itu termasuk seorang gadis berusia 2 tahun, pemain voli remaja, perempuan dan laki-laki. Lebih dari 130 orang terluka, banyak diantaranya kini mengalami cacat permanen,” katanya.

Baqaei menyampaikan pernyataan tersebut, Senin kemarin setelah bertemu dengan Seyyed Mousa Mousavi, perwakilan parlemen dari Mehr dan Lamerd.

Dalam sebuah pesan yang diunggah di X, Baqaei juga mengatakan bahwa ia telah diberi laporan tentang rincian mengerikan dari serangan rudal Amerika yang menghancurkan sebuah gedung olahraga di kota Lamerd, Provinsi Fars.

Dia mengatakan serangan itu terjadi pada sore hari tanggal 28 Februari, hari yang sama ketika Amerika Serikat bersama Israel membunuh para siswa di sekolah Shajareh Tayyebeh di Minab dengan tiga rudal Tomahawknya.

Pada hari pertama perang agresi AS-Israel terhadap Iran pada tanggal 28 Februari 2026, sekolah dasar khusus perempuan Shajareh Tayyebeh di kota Minab, Iran selatan, menjadi sasaran serangan rudal AS, menewaskan sedikitnya 175 orang, termasuk 168 siswi.

Baqaei mengatakan bahwa area perumahan di Lamerd, termasuk aula olahraga, menjadi sasaran empat rudal serang presisi AS pada hari itu juga.

Menurut Baqaei, rudal-rudal AS  tersebut meledak di udara sebelum mengenai sasaran dan menyebarkan lebih dari 180.000 butir tungsten berkecepatan tinggi ke segala arah.

“Ini bukan sebuah kesalahan. Tidak diragukan bahwa militer AS menggunakan rudal tersebut untuk pertama kalinya guna menguji daya hancurnya terhadap lingkungan perumahan dan fasilitas olahraga,” tandas Baqaei.

Dia menggambarkan serangan itu sebagai kejahatan perang yang tercela dan mengatakan bahwa mereka yang bertanggung jawab harus dimintai pertanggungjawaban di hadapan pengadilan yang berwenang.

“Bangsa Iran tidak akan pernah melupakan putra dan putri kami yang gugur sebagai martir,” kata Baqaei. “Kami tidak akan melupakan maupun memaafkan kejahatan ini,” tegasnya lagi.

Uni Eropa Serukan Penyelidikan

Seorang anggota parlemen Eropa, Milan Uhrik menyerukan dilakukan penyelidikan atas pembantaian Amerika Serikat-Israel terhadap  siswi-siswi Minab itu, dengan mengatakan bahwa itu kemungkinan besar  serangan itu telah direncanakan.

“Serangan terhadap sekolah di Minab harus diselidiki,” kata Milan Uhrik.

Berbicara di sebuah unjuk rasa pemakaman bertema “Malaikat Minab,” yang diadakan di luar kedutaan besar Iran di Brussels, Uhrik mengatakan bahwa ia menduga serangan itu disengaja.

Sekitar 50 aktivis datang untuk menyatakan solidaritas mereka dengan rakyat Iran selama unjuk rasa pemakaman di Brussels.

Uhrik mengatakan bahwa sudah jelas bagi semua orang apa yang mampu dilakukan oleh rezim Israel.

Dia menyebut genosida yang dilakukan Israel terhadap warga Palestina di Jalur Gaza adalah contoh dari apa yang dilakukan pasukan rezim Israel terhadap warga sipil.

“Pembantaian anak-anak Minab bukan ‘situasi yang disayangkan’ tetapi ‘kejahatan perang yang keji,” tandas dia.

Kementerian Luar Negeri Iran juga tidak bisa menerima ungkapan Menteri Perang AS, Pete Hegseth yang menyebut pembantaian anak-anak Minab itu sebagai “insiden yang disayangkan.”

Uhrik mengatakan bahwa serangan yang menargetkan anak-anak, perempuan, dan orang tua Lebanon juga contoh lain dari kebrutalan pasukan Israel.

Uhrik mengatakan bahwa Israel mampu menyerang warga sipil, mengintimidasi orang, menyebarkan ketakutan diantara penduduk, ingin memenangkan perang dengan segala cara.

“Serangan terhadap sekolah Minab bisa jadi memang serangan yang direncanakan dan harus diselidiki,” ujarnya lagi.

Menurutnys Uhrik, serangan udara terhadap sekolahan ini kejahatan perang, dan Uni Eropa serta negara-negara Eropa seharusnya tidak terlibat dalam tindakan kriminal semacam itu.

Dia mengatakan bahwa dia juga telah mengirim surat kepada Komisi Eropa mengenai hal ini.

Politisi Slovakia itu mengecam Komisi Eropa dan para pemimpin Eropa karena menerapkan standar ganda terhadap kejahatan semacam itu.

Dia mengatakan bahwa orang Eropa mencoba menghindari penyelidikan terhadap kejahatan-kejahatan ini karena mereka lemah.

Ia menambahkan bahwa para pemimpin Eropa tidak mampu menunjukkan perlawanan terhadap kebijakan agresif yang didikte oleh Amerika Serikat dan Israel.

Namun, perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah memicu kecaman internasional yang meluas dan mengungkap keretakan yang dalam di aliansi Barat. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *